Jakarta (ANTARA News) -  "Kalau bekerja harus dengan hati, kalau tidak bisa sakit hati". Demikian prinsip yang selalu dipegang oleh Nurma Syeline,
salah seorang relawan (volunteer) yang ditugaskan di Main Press Center (MPC) Asian Games 2018 di Jakarta Convention Center (JCC).

Sebagai relawan, mahasiswi Universitas Paramadina Jakarta itu selama Asian Games berlangsung, bertugas di bagian logistik, yaitu melayani
berbagai kebutuhan media, terutama media asing yang menyewa ruangan kantor di MPC.

Karena tujuan utama sebagai relawan adalah melayani tamu, tidak jarang Nurma harus sigap mengambil inisiatif dan bahkan merogoh uang dari kantong
sendiri, agar tidak ada keluhan dari tamu.

Suatu kali, seorang wartawan dari media Korea yang menyewa ruangan di MPC, meminta air minum galon, sementara pihak panitia hanya menyediakan
peralatan dispenser. "Mereka maunya hari itu juga harus disediakan, sementara saat itu tidak ada pihak yang bisa memutuskan karena saya sedang bertugas sendiri," kata Nurma.
 
Dengan insiatif sendiri, Nurma kemudian keluar komplek Gelora Bung Karno untuk mencari galon air minum yang diminta dengan menyewa tukang
ojek. Tapi karena tukang ojek dan motornya tidak boleh memasuki komplek GBK, ia pun kemudian meminjam motor tukang ojek itu untuk mengantar galon ke tempat yang dituju.

Dalam jam kerja pun, Nurma bersama rekannya Pauline, mahasiswi Tarakanita Jakarta, tidak pernah hitung-hitungan.  "Dalam teorinya jam kerja saya delapan jam sehari, tapi tidak jarang saya harus bekerja sampai dinihari karena harus menyelesaikan tugas," kata Nurma.

Meski bekerja lebih lama dari ketentuan, Nurma mengaku tetap menjalankan tugasnya dengan senang hati dan ia pun sama sekali tidak berniat menuntut bayaran lebih.  "Saya tidak mengerti bagaimana aturannya kalau harus bekerja melebihi jam kerja. Tapi tidak apa-apalah, saya juga senang kok karena bisa menjadi bagian dari peristiwa bersejarah ini," katanya.

Pengalaman yang tidak menyenangkan juga dialami oleh Hanjani Putri, volunteer yang bertugas di cabang tinju di Jakarta International Expo (JIExpo) Kemayoran, Jakarta.  Saat menjalankan tugas di arena, mahasiswi Universitas Padjajaran itu sempat shock karena dibentak oleh seorang fotografer Korea Utara yang marah karena disuruh pindah ke tempat yang sudah disediakan.

"Lalu ada juga ofisial asing yang seolah-olah tidak mengerti bahasa Inggris waktu diberi tahu bahwa dilarang merekam pertandingan dengan kamera, dan ia terus saja merekam meski sudah berulang kali diperingatkan,"kata Hanjani, warga Bekasi itu.

Selain volunteer yang bertugas di dalam ruangan seperti di MPC dan arena pertandingan, pengalaman yang tidak kalah melelahkan, baik lelah fisik maupun lelah hati adalah di bagian transportasi, seperti yang dialami Herlita Aprizia dan rekannya Ade Irvan Suryana.

Herlita dan Ade Irvan ditemui saat bertugas di halte bis khusus penumpang di depan Istora Senayan. Mereka tampak tidak peduli dengan panas terik yang menyengat.

 "Kalau boleh memilih, saya ingin ditempatkam di arena pertandingan yang nyaman dan ber-AC, tidak mau berpanas-panasan seperti ini," kata Herlita,
mahasiswi jurusan Satra Korea Univeristas Indonesia ini.  Namun Herlita maupun Ade Irvan mengakui tetap bersemangat menjalankan tugas karena bagi mereka, hal yang terpenting adalah mendapatkan pengalaman berharga sebagai relawan dan ikut merasakan eforia Asian Games.

Berkat tugas sebagai relawan itu pula Ade Irvan dan Herlita menyaksikan perbedaan karakter orang Indonesia dengan tamu asing. "Saya lebih suka melayani tamu asing karena mereka mau menurut saat  diberitahu, beda dengan masyarakat kita yang suka protes dan inginnya serba cepat dilayani," kata Herlita.
Suasana di MPC Asian Games 2018 di JCC Jakarta, Kamis (30/8/2018) (Antara/Atman Ahdiat)



Lebih Banyak Suka
Dari beberapa relawan yang ditemui saat menjalankan tugas, baik di Komplek GBK maupun di JIExpo Kemayoran, umumnya menyatakan bahwa mereka
mendapatkan lebih banyak suka dibanding duka.

Seperti yang disampaikan Tubagus Fakhri Kurnia, mahasiswa Universitas Jendral Sudirman, Purwokerto, bertugas sebagai volunteer membuat dirinya
merasa menjadi bagian dari sejarah, sebagai mana motto volunteer Asian Games, yaitu Be A Part of History.
 
"Sukanya saya memiliki teman teman baru yang asyik, menambah pengetahuan di dunia media, Serta menjadi bagian sejarah dari Asian Games
dan dukanya, kerja lembur bagai kuda, waktu bersama keluara berkurang dan badan pegel pegel," kata Tubagus.

Sementara Astri Rahmalia, warga Bekasi yang juga masih kuliah di Universitas Soedirman, mengaku bahwa semua duka yang dialaminya selama
bertugas menjadi tertutupi oleh rasa suka yang lebih banyak dirasakan.

"Salah satu sukanya, saya menemukan banyak generasi millineal, terutama mereka  yang dibawah umur saya  yang cerdas dan  peduli, serta cinta
terhadap bangsa Indonesia," katanya Astri.

Rasa lelah, pulang larut malam dan kurang istirahat yang dialami para relawan seperti terobati dengan penghargaan yang disampaikan oleh Gubernur
DKI Jakarta Anies Baswedan.

Menurut Anies, relawan Asian Games adalah mereka yang termasuk bekerja di belakang panggung dan berperan penting dalam menyukseskan pesta olahraga
terbesar kedua sejagat setelah Olimpiade itu. Melalui akun Facebooknya, Anies mengatakan bahwa mayoritas relawan adalah anak-anak muda dari berbagai daerah se-Indonesia. Mereka tidak digaji, tapi bisa bekerja sepenuh hati karena kecintaannya pada Indonesia.

"Selesai Asian Games, para sukarelawan akan pulang dengan rasa bangga karena menjadi bagian dari pengabdian untuk bangsa dan negara. Sekali lagi
kami sampaikan terima kasih, apresiasi untuk teman-teman semua," kata Anies menambahkan.

Baca juga: Apa kata relawan petugas layanan publik di Asian Games 2018?

   

Pewarta:
Editor: Teguh Handoko
COPYRIGHT © ANTARA 2018