Menjadi tuan rumah bagi perhelatan olahraga terbesar seperti Asian Games bukan kali pertama untuk Indonesia.

Menarik melihat waktu ke 56 tahun lalu, Indonesia yang saat itu masih dipimpin oleh Presiden pertama, Sukarno menjadi tuan rumah untuk pesta olahraga negara-negara di benua Asia.

Pada 1962, Indonesia menjadi tuan rumah yang keempat bagi perhelatan empat tahunan ini setelah India (1951), Filipina (1954), dan Jepang (1958).

Di usia yang masih negara yang bisa dibilang baru beranjak remaja, atau 17 tahun pasca-proklamasi, Indonesia yang masih menata negara muda, memanfaatkan pesta olahraga itu sebagai momentum yang menguatkan peran negara di mata dunia sekaligus menjadi reformasi kebudayaan bagi rakyatnya.

Sukarno tidak membiarkan Indonesia mempersiapkan diri sebagai tuan rumah Asian Games ala kadarnya.

Berapa pun biaya yang harus dikeluarkan, tidak menjadi masalah asalkan harga diri dan martabat Indonesia di mata dunia diakui, demikian komitmen Soekarno.

Maka dari itu, dimulailah rentetan pembangunan yang dilakukan untuk menyambut para tamu yang akan bertanding dan menonton pertandingan sejak 24 Agustus sampai 4 September 1962 itu.

Persis seperti Presiden saat ini, Joko Widodo yang bahu membahu bersama pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan yang saat ini menyiapkan segala detil Asian Games 2018, Sukarno pun saat itu memaksimalkan seluruh potensi yang ada.

Istana Olahraga (Istora) Senayan atau Gelor Bung Karno (GBK) yang berdiri kokoh di kawasan selatan Jakarta menjadi salah satu memorabilia dari momen Asian Games 1962 yang masih tangguh hingga kini.

Mulai dibangun pada Februari 1960, Istora yang mencakup pada stadion utama, arena renang. tenis, basket, stadion madya, lapangan beberapa cabang olahraga lain serta tiga wisma atlet memang menjadi gairah nyata Sukarno dalam menyambut Asian Games 1962.

Dalam beberapa sumber, Sukarno bahkan menyebut kalau Istora Senayan hendaknya menjadi stadion terbesar di dunia yang menjadi awal bangsa Indonesia sebagai bintang pedoman bangsa-bangsa di dunia.

"Kita tunjukkan pada dunia, Indonesia bangsa yang besar, yang mampu maju ke muka memimpin pembebasan bangsa-bangsa di dunia menuju dunia barunya," kata dia.

Waktu itu, Senayan belum menjadi pusat kota. Senayan tak ubahnya kampung Betawi yang dihuni oleh masyarakat biasa, namun berkat kepiawaian Sukarno dalam berkomunikasi, hati masyarakat Senayan pun mampu diambilnya agar secara sukarela mau dipindahkan ke Tebet yang dipilih sebagai tempat relokasi saat itu.

Dalam sebuah wawancara, sejarawan JJ Rizal menyebut masyarakat Senayan memang mendapat ganti untung dari penggusuran itu, tetapi masyarakat merelakan tanahnya bukan hanya karena dapat uang pengganti namun juga karena bangga daerahnya diikut sertakan sebagai rencana besar Sang Proklamator.

Menurut Rizal, cara penggusuran yang manusiawi melalui dialog dengan lebih dulu memikirkan lokasi pemindahan membuat masyarakat tak melawan saat direlokasi.

Dalam memperisapkan Asian Games 1962, Sukarno tak hanya membuat gelanggang tempat bertanding para atlet. Lebih dari itu, dia pun membangun sejumlah sarana prasarana penunjang bagi kompetisi itu.

Sebuah patung yang kemudian dikenal sebagai Monumen Selamat Datang lantas berdiri di lokasi yang kini dikenal sebagai Bundaran Hotel Indonesia untuk menyambut para atlet yang masuk ke Jakarta melalui Bandara Internasional Kemayoran kemudian menuju Hotel Indonesia sebagai penginapan mereka

Jati diri bangsa
Peneliti Sukarno dari Institut Seni Indonesia, Mikke Susanto mengatakan, bagi Sukarno, Asian Games 1962 adalah peristiwa yang dapat dimanfaatkan sebagai salah satu perangkat menunjukkan jati diri bangsa. Untuk itu kepala negara tersebut menghendaki agar setiap lini dikerjakan dengan sebaik mungkin.

"Tidak saja pada peristiwa olahraganya saja, namun kota sebagai representasi negara haruslah indah, patung Selamat Datang dikerjakan untuk menyambut peserta Asian Games 1962 karena memiliki simbol menyambut tamu datang ," katanya.

Patung tersebut dikerjakan dengan gaya realistik, teksturnya kasar, menampilkan dua sosok manusia lelaki dan perempuan menghadap arah bandara Kemayoran (saat itu bandara di Kemayoran) yang merupakan jalan utama dan dipakai oleh setiap tamu negara.

Karya seni berupa patung itu menjadi ikon kota yang dikenal di seluruh dunia dan dengan ukurannya yang super besar Sukarno ingin menunjukkan kemegahan bangsa Indonesia melalui monumen tersebut, kata Mikke Susanto.

Pada masa itu, kemampuan SDM dalam negeri untuk membuat patung belum mencukupi, dan Sukarno sebenarnya bisa meminta pematung asing untuk mengerjakannya, namun Sukarno tidak melakukannya karena ingin membanggakan diri bahwa bangsanya bisa membuat karya monumental.

"Terbukti bahwa Patung Selamat Datang kini menjadi wajah Indonesia," katanya.

Rancangan awal monumen yang terdiri atas dua pemuda-pemudi yang sedang melambaikan tangan dan membawa buket bunga. Pengerjaan patung dilakukan oleh pelukis Henk Ngantung, yang pada saat itu menjabat sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta.

Patung perunggu setinggi tujuh meter ini kemudian dibuat oleh tim pematung Keluarga Arca pimpinan Edhi Sunarso di Karangwuni dalam jangka waktu sekitar satu tahun dari 1959 hingga 1962.

Ada kisah menarik pada saat Edhi Sunarso dipanggil Sukarno untuk mengerjakannya dan mendapat tantangan untuk patung berukuran raksasa.

"Jangankan patung berukuran sembilan meter, patung sembilan sentimeter saaj belum pernah," katanyaa.

Namun tantangan dengan mengusung nasionalisme dari Sukarno membuat Edhi dan kawan kawan menerima tantangan tersebut.

Mengenai patung ini, Sukarno menyebut bahwa Monumen Selamat Datang tidak hanya berarti penyambutan tetapi juga gerbang bangsa yang menjadi awal dari sejarah berpikir Indonesia.

Saat itu dia memimpikan Jakarta sebagai kota dunia, dimana pusat-pusat kebudayaan akan ada disekeliling Stadion Senyan, sehingga tempat tersebut tidak hanya akan melahirkan atlet, tetapi juga para seniman berbakat.

Siaran televisi
Asian Games 1962 juga jadi sejarah penting untuk Televisi Republik Indonesia (TVRI).

Karena di perhelatan inilah, Indonesia pertama kali memiliki TV nasional yang sekaligus mengudara pertama kali di hari pertama pertandingan Asian Games.

TVRI dirintis sejak 25 Juli 1961 lewat penandatanganan perjanjian (SK Menpen) tentang pembentukan Panitia Persiapan Televisi (P2T).

Pada bulan Oktober, Sukarno memerintahkan pembangunan sebuah studio di Senayan, Jakarta dan dua menara televisi.

Sebelum mengudara secara resmi dan meliput Asian Games 1962, TVRI menyiarkan transmisi uji pertamanya pada peringatan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dari Istana Merdeka pada 17 Agustus 1962.

Selain tiga memorabilia ini, Asian Games 1962 memang menyimpan banyak warisan yang berkesan bagi bangsa Indonesia seperti pembangunan jalan baru termasuk Jalan M.H. Thamrin, Gatot Subroto dan Jembatan Semanggi.

Tetapi lebih dari itu, semangat penyelenggaraan Asian Games 1962 di tengah usia republik yang masih belia menjadi pembuktian kalau sebagai bangsa, Indonesia mampu melakukan hal-hal luar biasa asal dibarengi dengan semangat tinggi dan saling mendukung.

Layaknya asa yang diembuskan Sukarno agar Indonesia mampu menujukkan diri sebagai bangsa yang besar, mampu maju ke muka, dan memimpin pembebasan bangsa-bangsa di dunia menuju dunia barunya.

Semangat Asian Games 1962 ini pula yang hendaknya disulut kembali dalam penyelenggaraan Asian Games 2018 ini.

Baca juga: Sketsa Ngantung Masih Menggantung
Baca juga: Keluarga Henk Ngantung Akan Gugat Grand Indonesia

Pewarta:
Editor: Aditia Maruli Radja
COPYRIGHT © ANTARA 2018