Jakarta (ANTARA News) - Indonesia untuk ketiga kalinya secara berturut-turut mampu mempertahankan tradisi mendulang medali emas nomor ganda putra bulu tangkis pada ajang Asian Games setelah pada perhelatan tahun ini terjadi “All Indonesian Final”.
   
Pada Asian Games 2010 Guangzhou, ganda putra Indonesia Markis Kido/Hendra Setiawan mempersembahkan emas untuk kontingen Merah Putih.
   
Empat tahun kemudian saat pesta olah raga terbesar di Asia tersebut digelar di Incheon, Hendra Setiawan yang saat itu berpasangan dengan Mohammad Ahsan mempersembahkan medali emas untuk Indonesia.
   
Dan pada saat Indonesia didapuk sebagai tuan rumah Asian Games 2018, tradisi emas tersebut tetap dipertahankan setelah terjadi “All Indonesian Final” yang akan mempertemukan Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto dengan Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo.
   
Babak final ganda putra Asian Games 2018 akan digelar di Istora Senayan, Selasa (28/8).
   
Pasangan putra Indonesia Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto melangkah ke babak final setelah menumbangkan juara dunia Li Jun Hui/Liu Yu Chen dari China dalam pertandingan tiga gim 21-14, 19-21, 21-13 di Istora Senayan, Senin.
   
Langkah gemilang pasangan tuan rumah tersebut diikuti oleh rekannya sesama pelatnas yaitu Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo setelah mengalahkan pasangan Chinese Taipei Lee Jhe Hui/Lee Yang juga dalam permainan tiga gim 21-15, 20-22, 21-12 dalam waktu 43 menit.
   
“Hasil di Asian Games ini sekaligus menjadi kado ulang tahun saya. Ini adalah hasil yang bagus, karena sudah lama tidak terjadi ‘All Indonesian Final’ di ganda putra pada Asian Games. Saya ucapkan terima kasih ke ganda putra untuk hasil ini,” kata Pelatih Ganda Putra Indonesia Herry Iman Pierngadi.
   
Keberhasilan kedua pasangan ganda putra yang seluruhnya adalah anak asuhnya untuk tampil di babak final Asian Games tersebut, lanjut dia, juga menjadi bukti bahwa regenerasi pemain ganda putra di Indonesia dapat dilakukan dengan baik.
   
“Regenerasi ganda putra cukup baik karena latihan dan pembinaan di klub pun sudah merata dan dilakukan dengan baik,” katanya.
   
Karena yang akan tampil di babak final seluruhnya adalah anak buah Herry, maka ia merasa tidak perlu memberikan komentar apapun.
   
Ia pun mengaku memilih menyaksikan pertandingan dari tribun dan tidak turun ke lapangan untuk duduk dan mendampingi salah satu pasangan saat bertanding.
   
“Untuk strategi, akan saya serahkan langsung ke masing-masing pasangan,” kata Herry. 
   
Sedangkan mengenai grafik penampilan kedua ganda putra yang cenderung menurun, Herry mengatakan bahwa kondisi tersebut normal apalagi kedua ganda juga diturunkan saat pertandingan beregu putra.
   
“Tekanan saat tampil di nomor beregu sangat besar. Saya kira, grafik ‘performa’ seluruh pemain akan turun. Kondisi ini tidak hanya terjadi untuk pemain Indonesia saja tetapi juga dialami oleh pemain-pemain lain seperti China dan Jepang,” katanya.
   
Sementara itu, Kevin maupun Marcus mengatakan, meski harus menghadapi rekan senegara, namun mereka tidak akan mengendorkan permainan dan tetap bertekad menampilkan permainan terbaik.
   
“Kami hanya musuh saat di lapangan saja. Saat di luar lapangan, kami berteman,” kata Kevin.
   
Sedangkan untuk bonus yang dijanjikan kepada atlet yang sukses meraih emas di ajang Asian Games 2018, Kevin menyebut bahwa bonus memang merupakan motivasi tersendiri.
   
“Bonus akan dijadikan motivasi. Tetapi yang paling penting adalah fokus ke prestasi terlebih dulu,” katanya.
   
Optimisme yang sama juga ditunjukkan oleh pasangan Fajar/Rian yang menyebut bahwa mereka akan menampilkan permainan terbaik. Salah satu motivasi pasangan tersebut adalah untuk membahagiakan orang tua. 
   
Kedua ganda tuan rumah tersebut tercatat baru satu kali bertemu, yaitu di ajang Indonesia Terbuka tahun ini yang dimenangi oleh pasangan Marcus/Kevin dalam dua gim langsung.
   
Saat ini, Marcus/Kevin berada di peringkat pertama dunia sedangkan Fajar/Rian menduduki tempat sembilan dunia.

Pewarta:
Editor: Fitri Supratiwi
COPYRIGHT © ANTARA 2018