Jakarta, (ANTARA News) - Timnas bola tangan Indonesia, baik putra dan putri, sampai dengan saat ini belum bisa menampilkan permainan terbaiknya dalam Asian Games 2018 di GOR POPKI, Jakarta Timur.

Tim putra misalnya, pada babak penyisihan satu grup dengan Arab Saudi dan Hong Kong, Indonesia tidak pernah mendapatkan poin.

Saat berada pada babak utama grup 3 Indonesia tergabung dengan Chinese Taipei, India, Pakistan, dan Malaysia. Di grup itu, anak asuh dari pelatih asal Korea Selatan Yoon Tae II, baru menang melawan Malaysia. Dua pertandingan sebelumnya kalah, sedangkan pertandingan terakhir akan dilakukan pada Rabu (29/8) bertemu dengan India.

Demikian juga dengan timnas putri Indonesia. Baru satu kali menang saat bertemu dengan timnas putri Malaysia. Sisanya mengalami kekalahan saat bertemu dengan Jepang, Thailand, dan Hong Kong pada babak penyisihan.

Hasil negatif di Asian Games 2018 tentu menjadi evaluasi bagi pemerintah Indonesia, khususnya pengurus Asosiasi Bola Tangan Indonesia (ABTI). 

Pelatih bola tangan putra Indonesia Yoon Tae Il menilai sebenarnya timnas Indonesia mempunyai atlet-atlet bola tangan yang hebat jika diberikan porsi bermain atau bertanding yang lebih banyak.

Pengalaman bertanding yang banyak, menurut dia akan menjadikan atlet-atlet bola tangan Indonesia, khususnya tim asuhannya, dapat berkembang dengan baik.

"Kita memang kalah dalam beberapa kali pertandingan di Asian Games 2018 ini. Tetapi saya tidak ingin melihat dari kekalahan itu, saya lebih melihat dari kematangan bermain dari anak-anak saya dan saya rasa tim kita sudah cukup kuat," katanya.

Jika dibandingkan dengan timnas bola tangan negara lain, Indonesia tentu kalah jauh. Kehadiran bola tangan Indonesia baru pertama kali terdaftar di KONI pusat pada 2013.

Hal tersebut juga diakui oleh pelatih timnas putri Indonesia, Abdul Kadir. Ia menilai bahwa jika dibandingkan dengan negara-negara di Asia Barat dan Asia Timur, tentu timnas Indonesia kalah jauh.

Namun kalau dibandingkan dengan negara-negara Asia Tenggara, Indonesia masih merupakan lawan yang kuat.

"Melawan Malaysia kita menang, melawan Thailand walaupun kalah tidak terlalu jauh skornya, jika dibandingkan saat melawan Korea Selatan, Jepang, atau negara lainnya," tambah dia.

Perkembangan olahraga yang mengandalkan teknik, kecepatan, dan fisik ini di negara lain sudah ada sejak 20-30 tahun yang lalu, bahkan hingga saat ini beberapa negara seperti Asia Timur, seperti Korea Selatan, Hong Kong China, dan beberapa negara lainnya, sementara Asia Barat seperti Qatar, Arab Saudi, Bahrain, dan beberapa negara lainnya.

Qatar sendiri sebagai salah satu negara dengan tim bola tangan terkuat di Asia justru menaturalisasikan sejumlah pemainnya untuk masuk dalam timnas Qatar. 



Mengasah Pengalaman 

Beberapa pemain timnas bola tangan putra dan putri Indonesia menilai bahwa kekalahan demi kekalahan di Asian Games 2018 adalah ajang untuk mencuri ilmu dan mengasah pengalaman bertanding.

Pasalnya, banyak negara-negara yang ikut dalam cabang olahraga itu adalah negara-negara hebat, seperti Qatar, Bahrain, Korea Selatan, Jepang, serta beberapa negara lainnya.

Indonesia sendiri, baik putra dan putri, akan kembali bertanding pada Rabu (29/8) di GOR POPKI, Cibubur Jakarta Timur. Pertandingan tersebut adalah pertandingan terakhir. 

Lawan yang akan dihadapi juga tanguh, yakni untuk tim putra Indonesia akan bertemu dengan India, sedangkan tim putri akan bertemu dengan Hong Kong China.

Kapten timnas putri Indonesia Dwi Putri Merdekawati mengatakan setelah dikalahkan Jepang, dirinya dan timnya sudah diminta untuk bermain dengan bebas dan santai, tanpa beban.

"Kami juga tidak menargetkan yang muluk-muluk saat bertemu Jepang. Kami hanya ingin mengambil ilmu dari Jepang. Lagi pula sejak awal sudah disampaikan oleh pelatih agar kami bermain bebas dan santai, tanpa beban," tambahnya. 

Kekalahan demi kekalahan itu juga tak membuat semangat juang atlet bola tangan putra Indonesia luntur begitu saja.

"Kami tahu saat bertemu dengan tim-tim hebat, susah. Pasti kami kalah. Namun, kami tetap memberikan permainan terbaik kami," kata Viktorius Rafael Tolang, salah satu pemain yang menjadi andalan dari tim putra Indonesia.



Tak Terlalu

Ketua Umum Asosiasi Bola Tangan Indonesia (ABTI) Mayjen TNI (Purn) Dody Usodo tak terlalu ambil pusing atas prestasi negatif yang diperoleh para atlet bola tangan Indonesia.

"Bola tangan di Indonesia umurnya masih sangat muda, masuk dalam keanggotaan KONI pada tahun 2013 dan sekarang sudah berjalan lima tahun. Masih relatif sangat muda bila dibandingkan dengan olahraga permainan lainnya, seperti sepak bola, basket, bola voli, futsal, dan olahraga permainan lainnya," tuturnya.

Bola tangan merupakan salah satu olahraga olimpiade yang selalu dipertandingkan dalam setiap ajang multicabang.

Olahraga itu juga dinilainya sangat menjanjikan untuk mengukir prestasi Indonesia pada masa mendatang.

Namun, menurut dia, perlu campur tangan pemerintah maupun pihak swasta sebagai sponsor untuk mengembangkan olahraga bola tangan di Tanah Air.

"Sampai dengan saat ini kita belum memiliki lapangan bola tangan secara khusus, tetapi masih pinjam atau sewa dan juga numpang di lapangan futsal, karena memiliki ukuran lapangan yang sama, yakni 20 X 40 meter," kata dia. 

Setelah Asian Games 2018, ABTI pusat akan berusaha berkoordinasi dengan setiap ABTI di seluruh provinsi agar membantu mencari bibit-bibit atlet baru guna pengembangan timnas bola tangan pada masa mendatang. 

Timnas bola tangan Indonesia tetap optimistis, mampu menjadi tim terkuat di Asia, jika pembinaannya dilakukan secara baik dan benar.*


 


Baca juga: Viktorius atlet yang terus tersenyum saat bertanding

Baca juga: Bahrain maju ke final seusai kalahkan Jepang

Pewarta:
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2018