Jakarta (ANTARA News) - Perlombaan cabang olahraga atletik pada Asian Games 2018 di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta, Minggu, menggelar sepuluh nomor final, salah satunya nomor bergengsi lari jarak pendek 100 meter putra.
     
Pada nomor ini, tuan rumah Indonesia mengandalkan perburuan medali pada sosok Lalu Mohammad Zohri, sprinter yang beberapa waktu lalu mengejutkan publik Tanah Air dengan meraih medali emas pada kejuaraan dunia U-20 di Finlandia.
     
Kini berlomba di rumah sendiri, aksi Zohri ditunggu para pendukungnya untuk membuktikan kemampuan terbaiknya menyumbangkan medali bagi kontingen Indonesia, meskipun Pengurus Besar Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PB PASI) tidak membebani target emas.
     
Justru Zohri, seperti yang dinyatakan Sekjen PB PASI Tigor Tanjung, diharapkan bisa membuat kejutan bersama rekan-rekannya saat berlomba di nomor 4X100 meter putra.
     
"Yang bersangkutan masih muda dan justru diharapkan untuk Olimpiade 2020 dan 2024. Kalau kita bebani target di Asian Games ini justru akan kontraproduktif," kata Tigor. 
     
Namun sebelum bersaing dalam perebutan medali, Zohri masih harus melewati babak semifinal. Pada babak penyisihan yang berlangsung Sabtu (25/8) sore, Zohri mencapai garis finis dengan catatan waktu 10,27 detik.
     
Catatan waktu ini masih di bawah pencapaian terbaiknya saat menjadi juara dunia di Finlandia, yaitu 10,18 detik.
     
Pesaing terkuat nomor sprint datang dari atlet-atlet China, Jepang, dan Korea Selatan. Selain Zohri, Indonesia juga masih memiliki Bobi Yaspi yang juga lolos semifinal.
     
Perlombaan atletik baru memasuki hari kedua setelah menyelesaikan empat nomor final di hari pertama, tetapi wakil-wakil Indonesia gagal meraih medali.
     
Agus Prayogo yang menjadi tumpuan pada nomor maraton justru gagal masuk finis, karena mengalami cedera saat perlombaan memasuki kilometer 25-30.
     
"Dia sudah merasakan sakit sejak kilometer 20, kemudian pada kilometer 30 bertemu saya dan memutuskan keluar dari perlombaan," kata dr Wawan Budi Susilo, dokter tim atletik Indonesia.
     
Sementara itu, perhelatan hari kedelapan Asian Games 2018 di Jakarta dan Palembang menyediakan sebanyak 35 medali emas yang didistribusikan dari 12 cabang olahraga.
     
Selain atletik, perebutan medali emas juga ada di cabang olahraga menembak, kano/kayak, angkat besi, karate, jujitsu, golf, squash, berkuda, panjat tebing, jetski, dan basket 3x3.
     
Kontingen Indonesia berharap bisa kembali menambah perbendaraan medali, seperti dari kano/kayak yang melombakan nomor perahu naga jarak 500 meter putra dan putri.
     
Harapan ini tidak terlalu berlebihan seiring sukses tim putri Indonesia yang sehari sebelumnya mampu meraih medali perak untuk jarak 200 meter, sementara di bagian putranya gagal menyumbang medali.
     
Tim China, Korea Selatan, Thailand, dan Chinese Taipei menjadi pesaing terberat tim Indonesia untuk mengejar medali. Negara-negara ini telah membuktikan kualitasnya di perlombaan hari pertama jarak 200 meter putra dan putri.
     
Kontingen Indonesia hingga Sabtu (25/8) telah mengumpulkan 10 medali emas, 12 perah dan 16 perunggu, menempati posisi kelima di bawah China (72-51-30), Jepang (34-31-44), Korea Selatan (25-26-33), dan Iran (14-11-9).
     
Posisi Indonesia rawan digusur kontingen Korea Utara yang mengoleksi 10 emas, 5 perak dan 6 perunggu, atau juga Thailand dengan 8 emas, 8 perak dan 24 perunggu.
     
Tetapi setidaknya dengan pencapaian hingga sepekan perhelatan pesta olahraga terbesar negara-negara Asia ini, tuan rumah Indonesia sudah berada di jalur tepat untuk mengejar target masuk 10 besar dengan perolehan medali emas minimal 16 keping.
     
Kontingen Merah Putih masih memiliki harapan untuk merealisasikan target medali emas dari beberapa cabang olahraga, seperti bulu tangkis, pencak silat, panahan, dan bridge.
 

Pewarta: Didik Kusbiantoro
Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © ANTARA 2018