Jakarta (ANTARA News) - Para penggawa tim bola basket putra Indonesia memiliki alasan dan penjelasan masing-masing soal kekalahan mereka dari Jepang dalam perebutan peringkat ketujuh Asian Games 2018 di Istora Senayan, Jakarta, Jumat.

Sebagian besar jawaban memang mengarah pada perbedaan kualitas, kendati Jepang hanya merotasi delapan pemain tersisa di roster mereka menyusul pemulangan empat pemain akibat tindak indisipliner.


1. Beda level

Guard utama tim putra Indonesia, Xaverius Prawiro, menyebut hilangnya empat pemain di roster Jepang tak serta merta mengurangi kualitas tim mereka jika dibandingkan Indonesia.

"Mereka kehilangan empat orang memang, tapi dari empat itu dua starter dua cadangan, jadi tidak terlalu berbeda," kata pemain yang akrab disapa Ius itu selepas pertandingan.

"Di Asian Games ini semua tim levelnya di atas kita. Kita harus terus belajar, perbanyak pengalaman di kompetisi tingkat Asia," ujarnya menambahkan.

Jika melihat hasil akhir pertandingan, yakni skor 84-66 untuk kemenangan Jepang yang hanya diperkuat delapan pemain, tentu penjelasan Ius bisa diterima, kendati ia dan rekan-rekannya terus berusaha hingga bel tanda laga usai berbunyi.


2. Kalah rebound

Indonesia sempat memberikan perlawanan setimpal di dua kuarter pertama, namun di paruh kedua pertandingan Jepang melejit penampilannya, yang disebut oleh center Adhi Pratama Putra salah satunya disokong oleh kecakapan lawan mengamankan bola-bola rebound.

"Di first half kita bisa agak imbangi. Masuk second half kita banyak kalah rebound, padahal seharusnya masih bisa mengimbangi," ujarnya.

Catatan statistik memperlihatkan Indonesia mengumpulkan 36 rebound sepanjang laga dan Jepang hanya unggul tipis dengan 38 rebound.

Baca juga: Delapan pemain Jepang kalahkan Indonesia, raih peringkat ketujuh basket putra

Namun jika dibedah, Jepang mampu mengamankan 11 kali offensive rebound dibandingkan 6 offensive rebound milik Indonesia, yang artinya Jepang lebih sigap menanti bola rebound kala menyerang dari Indonesia.

Adhi sendiri harus meninggalkan lapangan lebih awal saat laga masih menyisakan 3 menit 30 detik lantaran terkena foul out.


3. "Wangi"

Wangi adalah istilah yang digunakan di kalangan pebasket untuk menyebut kondisi di mana tingkat akurasi tembakan sebuah tim tergolong tinggi.

Dan kapten Indonesia, Arki Dikania Wisnu, menyebut barisan pemain Jepang tengah wangi dalam hal percobaan tembakan tiga angka.

"Kita sudah coba batasi, tapi terakhir-terakhir mereka wangi banget tripoin," ujar Arki pendek.

Jepang memang tampil efisien dalam percobaan tembakan tripoin mereka, melesakkan 16 dari 37 kali percobaan yang dilepaskan atau setara 43 persen.

Barisan penembak tiga angkat Jepang dipimpin Naoto Tsuji dan Leo Vendrame yang masing-masing menceploskan delapan dan lima tembakan tiga angka.

Baca juga: Suporter bersuara lantang di balik kemenangan basket putra Jepang

Pewarta: Gilang Galiartha
Editor: Atman Ahdiat
COPYRIGHT © ANTARA 2018